السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

2 Maret 2012

Field Trip ke Cagar Alam Geologi Karangsambung, Kebumen

Perjalanan field trip Soiler FOX Land 44 pada hari ke-2 dimulai dengan kembali menyusuri jalur Pangandaran-Banjar. Di kota banjar berbelok ke kanan menuju perbatasan Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Tujuan utama hari ke-2 ialah menuju cagar alam geologi (CAG) Karangsambung, Kebumen. Sepanjang perjalanan banyak hal yang dapat dilihat dan didiskusikan, seperti daerah berbukit di Wangon, pesawahan di daerah Banyumas, alat perontok/penggiling padi diangkut kendaraan rakitan, hingga penjual dawet ayu Banjarnegara.

Indonesia, sebagai negara kepulauan (archipelago), merupakan negara dengan wilayah paling labil di dunia ditinjau dari segi geologi. Hal ini terjadi karena Indonesia terjadi pertemuan pergerakan 3 lempeng besar, yaitu lempeng samudra Hindia-Australia yang bergerak ke utara, lempeng benua Eurasia yang bergerak ke tenggara, dan lempeng samudra Pasifik yang bergerak kearah barat.

Pertemuan antara lempeng samudra Hindia-Australia dengan lempeng benua Eurasia menghasilkan palung laut dalam yang memanjang dari selatan kepulauan Mentawai di Sumatra, selatan P. Jawa, Nusa Tenggara dan terus ketimur hingga Laut Banda yang merupakan pusat gempa tektonik. Selain membentuk jalur palung laut dalam, tumbukan lempeng-lempeng tersebut juga membentuk jalur gunung berapi di daratan yang di kenal dengan Sirkum Mediterania. Pertemuan lempeng Samudra Pasifik dengan lempeng benua Eurasia juga menghasilkan palung laut dalam di timur Sulawesi dan deretan gunungapi dalam jalur gunungapi Sirkum Pasifik. Oleh sebab itu Indonesia juga merupakan salah satu negara yang termasuk dalam “Ring of Fire”. Karena posisinya yang demikian, maka Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap gempa bumi dan tsunami. Jalur gempa bumi akan mengikuti jalur pertemuan lempeng serta pada daerah-daerah patahan aktif, seperti P. Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Timor, Maluku, Sulawesi, dan Papua.

Desa Karang Sambung yang menjadi lokasi geowisata terletak sekitar 19 km di sebelah utara Kebumen. Secara administratif cagar alam geologi (CAG) Karangsambung ini termasuk wilayah kabupaten Kebumen, Banjarnegara dan Wonosobo dan menyerbar pada luasan sekitar 20X20 km atau pada koordinat 109o35’-109o41’ dan 7o25’-7o36’.

CAG Karangsambung merupakan salah satu titik di muka bumi yang memiliki singkapan-singkapan batuan terlengkap dan terbaik sehingga dapat digunakan untuk mempelajari sejarah perkembangan bumi. Pada wilayah yang tidak terlalu luas ini kita akan menemukan beragam jenis batuan, baik batuan beku, sedimen, maupun metamorfik, dengan umur beragam dan proses pembentukan yang berbeda. Berdasarkan sebaran jenis dan umur batuan tersebut, menurut Asikin (1974) stratigrafi daerah ini meliputi Komplek Melang Lok Ulo, Formasi Totogan-Karangsambung, Formasi Waturanda, dan Formasi Penosogan.
Sungai Lok Ulo
Keunikan wilayah CAG Karangsambung terbentuk karena tumbukan antar lempeng samudera Hindia-Australia dengan lempeng benua Eurasia yang terjadi pada jaman kapur (sekitar 121-60 juta tahun yang lalu). Oleh sebab itu kawasan ini menjadi salah satu kunci dalam mempelajari proses evolusi lempeng di Asia Tengggara. Jejak tumbukan ke dua lempeng ini dapat di temukan dalam bentuk singkapan-singkapan berbagai jenis batuan. Batuan-batuan beku seperti peridotit, gabro, basalt, andesit, decite, dan diabas dijumpai di daerah ini. Batuan sedimen klastik, bioklastik maupun non-klastik yang terbentuk di dasar samudera yang dalam hingga lalut dangkal berumur 80-30 juta tahun yang lalu dijumpai juga di Karangsambung. Rijang (chert), batu liat merah dan batu gamping merah yang terbentuk di dasar samudera kini bisa dilihat dengan posisi hampir vertikal membentuk fenomena yang sangat menarik. Rijang sendiri berasosiasii dengan lava bantal yang terbentuk dari pembekuan magma dan punggungan tengah samudra. Batuliat bersisik (scaly clay) hasil pelongsoran berulang-ulang, batu pasir, breksi vulkanik, konglomerat kuarsa, dan batu gamping numulites juga ditemukan. Batuan metamorfik, saperti filit, sekis hijau, sekis mika (berumur 121 tahun yang lalu), sekis biru dan eklogit yang terbentuk dari metamorfosa regional tingkat tinggi terbentuk pula dii Karangsambung.
Mineral Serpentin

Keanekaragaman batuan di Karangsambung dengan kenampakan morfologi serta kekomplekan struktur geologinya menjadikan kawasan ini sebagai Monumen Geologi yang layak untuk dikonsevasi dan dijaga kelestariannya.
Ada pertanyaan yang selalu menggelitik. Mengapa  daerah ini bernama Kebumen? Apakah Kebumen berasal dari kata kebumian atau bumi? Dan adakah kaitan antara  Karangsambung dengan segala keunikannya itu dengan kata kebumian tadi? Kebumen memang berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi Kyai pangeran Bumidirja. Pangeran ini berselisih paham dengan pamannya, yaitu Sunan Amangkurat (raja Mataram 1645-1677) yang dikenal tidak bijaksana. Pangeran Bumidirja akhirnya meninggalkan Mataram dan mengembara ke arah barat hingga bermukim dan membuat padepokan di sebelah utara kelokan sungai Luk Ulo. Untuk menyamarkan namanya ia memakai nama Kyai Bumi atau Ki Bumi, sehingga daerah sekitar padepokannya sering disebuk Kibumian atau Kabumian, yang lebih dikenal dengan Kebumen.

Kebumen juga memiliki kawasan karst. Gua-gua di kawasan karst secara alamiah dihuni oleh burung-burung walet yang juga menjadi lambang Kabupaten Kebumen. Gua Jatijajar dan Gua Petruk merupakan objek-objek wisata yang cukup terkenal. Selain kedua gua tersebut masih ada puluhan gua lainnya, seperti 49 buah gua di kawasan karst Karangbolong dengan gua-gua Barat yang empunyai panjang lorong 3.305 m.

Daerah persawahan terhampar di daerah dataran tinggi Kebumen. Bendung Kaligending yang terletak di Karangsambung mampu mengairi sawah seluas 2.948 Ha. tumpukan jerami terlihat di sawah-sawah karena jerami sisa panen tidak dibakar. Setelah membusuk, jerami tersebut akan disebarkan se lahan sawah sebagai tambahan bahan organik. Selain sawah, industri genteng dan batu bata juga berkembang seperti terlihat di sepanjang jalan utama.

Berdasarkan keragaman batuan yang tersingkap di cagar alam ini, maka tanah yang terbentuk di atasnya juga beraneka.
Reina, Dr. Basuki, dan Iham sedang berdiskusi tentang batuan
Prof. Naik (kanan) sedang memberikan cendera mata kepada petugas Karangsambung yang telah membimbing selama berkeliling.
Soilscaper 44 IPB
Soilscaper 44 IPB

0 komentar:

Poskan Komentar

 
powered by Rifki Rahmatullah | Modified from: Lasantha - Premium Blogger Themes | .